ABOUT

AGATHA MEXIANA STEFANUS DAN ANDRE STEFANUS, PEMILIK RUMAH MAKAN BETHANIA Mereka memilih untuk tidak berpangku tangan. Mereka berusaha agar hidupnya tak bergantung pada orang lain. Hingga akhirnya, mereka sukses memimpin perusahaan.

Umur Agatha Maxiana Stefanus masih 22 tahun ketika sang ayah, Budi Hermanto, meninggal dunia 26 tahun lalu. Mau tak mau, Agatha harus meneruskan Warung Bethania yang dirintis ayahnya dua tahun sebelum meninggal. Kini, Agatha dengan Warung Bethania miliknya sudah melangkah begitu jauh.

Pada 5 Mei mendatang, Warung Bethania sudah berumur 28 tahun. Dengan demikian, sudah 26 tahun ini Agatha mengelola warung Bethania. Namun, itu tentunya bukanlah capaian yang mudah. Apalagi, bisnis kuliner di Malang Raya tumbuh subur bak jamur di musim hujan. ”Ini peninggalan orang tua yang harus kita teruskan,” kata Agatha, Rabu lalu (19/4).

Saat ini, Warung Bethania memang sudah mempunyai brand kuat. Warung ini berada di Jalan Diponegoro, Kota Batu, dan Jalan Ciliwung, Kota Malang. Agatha mengelola warung ini bersama adiknya, yakni Andre Stefanus.

Salah satu tanda bahwa Bethania punya brand kuat adalah banyaknya artis dan pejabat yang makan di warung ini.

Dari hitung-hitungan Agatha, sudah ada sekitar 200 artis yang makan di warungnya. Di antaranya, Titik Puspa, menteri era Orde Baru Harmoko dan Cosmos Batubara, Hamengkubuwana IX, Judika, hingga pengamat kuliner Bondan Winarno. ”Kata Pak Bondan, rasa masakan di warung ini maknyus,” imbuh perempuan dua orang anak itu.

Pejabat yang berkunjung terakhir ini adalah Tri Suswati yang merupakan istri dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Ketika diwawancara, Agatha menunjukkan handphone¬-nya yang berisi pujian dari Suswati tentang kenikmatan lele di tempat ini. ”Beliau suka lele. Katanya, rasanya maknyus,” imbuh ibu dari Tachika dan Natasya tersebut.

Meski sudah dikunjungi ratusan artis dan pejabat, Agatha tetap menamai rumah makannya sebagai warung. Ini sesuai pesan sang ayah. Dulu, ayahnya memberi nama Bethania yang diambil dari kitab injil. Artinya, tempat persinggahan. ”Dengan bernama warung, tempat ini menjadi persinggahan semua kalangan, meskipun sekarang faktanya yang berkunjung ke sini kebanyakan orang menengah ke atas,” imbuhnya.

Sejak berdiri hingga sekarang, Bethania memang konsisten dengan masakan tradisional. Masakan andalan di warung ini, di antaranya gurami goreng, gurami saus padang, sambel matah, dan lain-lain. Kemudian, sambel yang paling legendaris adalah sambel pencit (mangga muda), sedangkan minumannya es bethania dan es puding bethania.

Selama 26 tahun mengelola Bethania, Agatha membeberkan, itu penuh perjuangan. Ini karena persaingan akan makin banyak. Oleh karena itu, yang dilakukan oleh Agatha adalah melakukan inovasi, baik untuk menu dan desain interior. ”Dulu, saat masih dipegang ayah, menunya hanya gurami goreng,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk masalah desain interior, kesan tradisional memang terasa di Warung Bethania. Misalnya, Warung Bethania yang ada di Jalan Ciliwung, Kota Malang, ada puluhan wadah tempeh yang ditempel di bagian atap atas. Hal itu pun menciptakan kesan yang artistik.

Saat ditanya alasan kenapa dia bisa bertahan sampai 26 tahun, padahal bidang kuliner jauh dari jurusannya, yakni jurusan psikologi, Agatha menyatakan, itu karena dirinya merasa nyaman di Bethania. Selain itu, dia ingin meneruskan usaha yang dirintis ayahnya. ”Kalau tentang ilmu psikologi, menurut saya, ini tetap berguna. Sebab, di sini saya juga mengurusi karyawan dan personalia,” pungkasnya.


Pewarta: Irham Thoriq

Penyunting: Irham Thoriq

Dikutip dari Jawa Post - Radar Malang
What's News
INFO & EVENTS


28 July, 2017

Kuliner Batu : Warung Bethania

Others